Lewat Seni, Kenalkan Tradisi Anyaman ke Kancah International

Festival Bunga Bal Floral Antwerpen, Belgium :
“Saya mengikuti ajang pameran itu untuk mewakili Indonesia. Yang mana pameran ini mengusung tema ‘Bal Floral’ untuk mengenang karya pelukis terkenal asal Belgia James Ensor,” kata Sopyan Kudhori.

Sopyan merupakan satu satunya mahasiswa asal Solo yang mewakili Indonesia di ajang bergengsi tersebut. Acara ini menampilkan kreasi dan inovasi seni dari perangkai bunga handal berbagai negara.

Bertindak sebagai asistent flower designer, Sopyan dan tim berhasil menciptakan seni instalasi bunga yang terinspirasi dari tokoh pewayangan nasional.

“Kami mengangkat tema Punokawan, salah satu wayang khas Indonesia asli Jawa. bukan keturunan dari wayang Mahabharata. Jadi kami menggabungkan aksen wayang dan topeng dengan rangkaian anyaman bunga,” jelas Sopyan.

Instalasi bunga yang ditampilkan tidak hanya menonjolkan keindahan bunga tropis. Tetapi juga mengenalkan teknik seni lipatan daun kelapa, daun pisang, dan pelepah jagung (klobot).

Karya itu diolah menjadi anyaman-anyaman dan lipatan-lipatan yang unik. Didukung dengan rangkaian bunga dan topeng-topeng yang mewakili karakter Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Butuh waktu sekitar satu bulan, agar ide kreativitas Sopyan dan tim tertuang dalam karya instalasi yang mampu menggaet antusiasme banyak pengunjung itu.

“Jadi kami selama satu bulan mulai mikir konsep. Prosesnya 50 persen kami kerjakan di Indonesia, 50 persen langsung di Belgia, yang membutuhkan sekira waktu dua hari,” ujar Sopyan.

Keterampilan Sopyan dalam seni anyaman tentu tidak datang begitu saja. Dia yang merupakan mahasiswa Prodi Batik Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini memang lekat dengan seni kriya. Utamanya seni anyaman, yang kental dengan adat tradisi Jawa.

Dia mengaku belajar anyaman secara otodidak. Di mana hal itu dia lakukan usai kerap menerima orderan hiasan Kembar Mayang sejak semasa sekolah.
“Saya belajar otodidak. Dulu sering ikut merangkai kembar mayang untuk manten Jawa karena kepepet butuh pemasukan, jadi sekarang lumayan bisa merangkai berbagai bentuk,” imbuhnya.
Ikut serta dalam ajang pameran internasional merupakan pengalaman tak terlu pakan bagi Sopyan. Menurutnya, merangkai bunga di negeri orang juga memiliki tantangan tersendiri. Terutama terkait bahan dan kualitasnya.

Instalasi karya sepanjang 1×4 meter itu dirangkai meng gunakan bahan-bahan otentik yang dipadukan dengan bunga-bunga cantik dari Belgia.
“Untungnya kemarin masih musim dingin yang mendekati awal musim gugur. Jadi di sana untuk bunga yang dibutuhkan masih banyak. Sekitar 8 jenis bunga khas Belgia kami pakai untuk dirangkai dalam instalasi,” urainya.

Berkat kekompakan tim, mahakarya instalasi tanah airpun mendapat sambutan hangat dari pengunjung. Bahkan tak sedikit dari warga lokal di Belgia, yang ikut belajar mengenai seni anyaman khas Indonesia.
Menurut Sopyan, sebagai generasi muda sudah sepatutnya ikut berbangga dengan budaya tradisi. Terlebih budaya Indonesia kini sudah. mulai banyak dikenal secara internasional.
“Intinya tetap cintai kesenian yang ada di sekitar kita, mari berikan hal yang terbaik yang dapat memberikan dampak positif dan jangan malu-malu untuk memberikan informasi mengenai kesenian apapun yang ada di sekitar kita,” tukasnya.