Program Studi Desain Mode Batik Terlibat pada Lokakarya Penyusunan Naskah Bilingual dalam Rangka Persiapan Akreditasi Internasional
Surakarta, 28 Agustus 2025 – Program Studi Desain Mode Batik, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia Surakarta menjadi salah satu program studi yang terlibat dalam Lokakarya Penyusunan Naskah Bilingual untuk persiapan akreditasi internasional. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPJMP) ISI Surakarta di Grand Mercure Hotel pada tanggal 28-29 Agustus 2029, menandai langkah bersejarah Program Studi Desain Mode Batik menuju pengakuan dunia internasional.
Sebagai program studi yang secara khusus mengintegrasikan warisan budaya batik dengan pendidikan desain mode kontemporer, Program Studi Desain Mode Batik ISI Surakarta memiliki posisi strategis dalam mengangkat martabat budaya Indonesia di kancah internasional. Lokakarya ini menjadi momentum penting bagi program studi untuk mempersiapkan diri menghadapi standar akreditasi internasional yang ketat.
“Program Studi Desain Mode Batik kami memiliki keunikan yang jarang dimiliki institusi pendidikan lainnya,” ungkap Dr. Aan Sudarwanto, S.Sn., M.Sn., Ketua Program Studi Desain Mode Batik, FSRD ISI Surakarta. “Kami tidak hanya mengajarkan teknik pembuatan batik tradisional, tetapi juga mengembangkan inovasi dalam desain mode yang menggabungkan filosofi batik Nusantara dengan tren fashion global. Akreditasi internasional akan menjadi pengakuan formal atas keunggulan dan keunikan program studi kami.”
Program studi yang telah berdiri sejak tahun 2012 ini, telah membuktikan eksistensinya melalui berbagai reputasi. Alumni Program Studi Desain Mode Batik ISI Surakarta telah tersebar melalui karya-karya fashion yang memadukan estetika tradisional dengan desain kontemporer. Banyak di antara mereka yang telah mendirikan brand fashion, berpartisipasi dalam fashion week, menjadi konsultan mode, dan lain sebagainya
Dalam konteks persiapan akreditasi internasional, Program Studi Desain Mode Batik menghadapi tantangan unik dalam menerjemahkan kekayaan filosofis dan teknis batik ke dalam bahasa akademik yang dapat dipahami oleh asesor internasional. Batik bukan sekadar teknik pewarnaan kain, melainkan merupakan warisan budaya yang sarat dengan makna simbolis, filosofis, dan spiritual yang telah diwariskan turun-temurun.
“Setiap motif batik memiliki cerita, setiap goresan canting mengandung doa, dan setiap warna menyimpan makna mendalam,” jelas Novita Dwi Wulandari, MA., dosen Program Studi Desain Mode Batik. “Tantangan kami dalam proses akreditasi internasional adalah bagaimana mempresentasikan kedalaman budaya ini dalam bahasa yang universal tanpa kehilangan esensi dan kearifan lokalnya.”
Kurikulum Program Studi Desain Mode Batik ISI Surakarta telah dirancang secara komprehensif untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai aspek teknis pembuatan batik, tetapi juga memahami konteks historis, antropologis, dan filosofis di baliknya. Mahasiswa dididik untuk menjadi desainer mode yang mampu menginterpretasikan motif-motif klasik ke dalam desain kontemporer, memahami karakteristik berbagai jenis kain batik, menguasai teknik pewarnaan alami dan sintetis, serta mengembangkan inovasi dalam aplikasi batik pada produk fashion modern.
Program studi ini juga memiliki keunggulan dalam hal fasilitas pembelajaran. Laboratorium batik yang lengkap dengan peralatan tradisional dan modern, studio desain yang dilengkapi teknologi terkini, yang menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran bagi mahasiswa. Fasilitas-fasilitas ini akan menjadi kekuatan utama dalam presentasi untuk akreditasi internasional.
“Kami memiliki track record penelitian yang sangat kuat dalam bidang batik dan desain mode,” tambah Ketua Program Studi. “Dosen-dosen kami telah menghasilkan puluhan publikasi, hak cipta inovasi teknik batik, dan karya seni. Semua capaian ini harus dapat dikomunikasikan dengan baik dalam dokumen akreditasi bilingual.”
Salah satu keunggulan Program Studi Desain Mode Batik adalah jaringan kerjasama yang luas dengan industri batik, komunitas perajin, dan institusi budaya. Program studi ini memiliki kemitraan dengan berbagai sanggar batik di Surakarta, Yogyakarta, dan daerah lain yang menjadi sentra batik. Kerjasama ini tidak hanya memperkaya pengalaman pembelajaran mahasiswa, tetapi juga berkontribusi dalam upaya pelestarian dan pengembangan batik tradisional.
“Visi kami adalah menjadikan Program Studi Desain Mode Batik ISI Surakarta sebagai rujukan utama pendidikan mode berbasis budaya di tingkat internasional,” pungkas Ketua Program Studi. “Akreditasi internasional ini bukan hanya tentang pengakuan, tetapi juga tentang komitmen kami untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian budaya Indonesia.”
Dengan persiapan yang cukup melalui lokakarya ini, Program Studi Desain Mode Batik ISI Surakarta akan mengajukan akreditasi internasional yang akan membuka peluang kerjasama lebih luas dengan institusi pendidikan dan industri mode dunia, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat studi batik dan desain mode terdepan di Indonesia.



